Widget edited by super-bee

Pages

Saturday, 16 March 2013

✎ Beberapa Makanan Khas Betawi


Indonesia memiliki beragam masakan khas sebagai kekayaan tiap daerah masing2. Beberapa makanan khas dari Betawi  di antaranya adalah :

1. Roti Buaya

Rasanya mirip dengan roti tawar pada umumnya. Ukuran rotinya yang terbilang besar dan bentuk roti yang menyerupai buaya memiliki keunikan tersendiri. Roti buaya merupakan salah satu persembahan untuk pengantin dalam adat masyarakat betawi.

2. Kerak Telor

Kerak telor sering dijumpai di daerah PRJ (Pekan Raya Jakarta) dan Kemayoran.  Dibuat dari bahan-bahan antara lain seperti beras ketan putih, telur ayam atau telur bebek, ebi (udang kering) dan parutan kelapa yang disangrai kering, serta bawang goreng, cabai merah, kencur, jahe, merica, garam dan gula pasir sebagai bumbu pelengkapnya.

3. Kembang Goyang

Terbuat dari tepung beras yang di cetak dalam sebuah cetakan yang berbentuk bunga dan memiliki rasa gurih.

4. Kue Rangi

Kue Tradisional khas betawi yang terbuat dari adonan parutan kelapa kelapa dan sagu yang dibakar kemudian dibalut saus gula merah yang manis dan legit

6. Soto Betawi

Soto Betawi hadir dalam kuliner masakan Indonesia sekitar tahun 1977 – 1978. Yang memopulerkan adalah penjual soto di THR Lokasari / Prinsen Park, tentunya dengan ciri khas cita rasa sendiri.

7. Lontong Sayur Betawi

Sayur lontong menggunakan pepaya muda (godog) dengan kuah santan gurih yang berasa pedas merupakan ciri khasnya.




Sumber



Tuesday, 12 March 2013

✎ Mengenang Game Poluler Masa Kecil


Buat kalian yang lahir di tahun 90-an khususnya laki-laki, pasti tidak asing mendengar kata Dingdong, yaitu game murah meriah yang sering kita temui di tempat2 ramai seperti di pasar. Dulu cukup membawa uang 1000 rupiah saja lalu ditukar dengan uang koin, bisa bermain selama berjam-jam karena saya termasuk ahli dalam game-game semacam ini...hehehe

Kira-kira seperti dibawah ini bentuknya,


Permainan yang populer diantaranya :


Captain Commando


Knights Of The Round


Punisher



Shadow Force



Macross


my favorit 


Mustapa (Cadillacs And Dinosaurs)


Street Fighter


Cowboys of Moomesa


King Of Fighters





Masa-masa indah yang menyenangkan........
 

Thursday, 7 March 2013

✎ Hompimpa, Suten/Sut dan Suwit Jepang


Hompimpa

Dalam hompimpa(h), yang ada hanya dua kemungkinan:
  • telungkup atau tengadah
  • tertutup atau terbuka.
  • Hitam atau putih
  • ya atau tidak.

Inilah momen pembelajaran bagi anak-anak Jogja agar bisa bersikap jelas dan tegas. Cepat dan lugas. Tak ada lagi posisi "di antara" (GOLPUT), tak boleh sok bijak merangkum dua kutub yang berseberangan, tak bisa negosiasi berkepanjangan.

Tak bisa pula berlindung di balik semboyan masyhur para leluhur, ngono ya ngono ning aja ngono (Silakan begitu asal jangan begitu).

Dalam hompimpa(h) tak boleh ada area abu-abu. Tak perlu selalu ragu. Satu-satunya yang boleh diragukan adalah keraguan itu sendiri.

****

Hompimpa atau hompimpah adalah sebuah cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan yang dilakukan oleh minimal tiga peserta. Secara bersama-sama, peserta mengucapkan kata hom-pim-pa. Ketika mengucapkan suku kata terakhir (pa), masing-masing peserta memperlihatkan salah satu telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke bawah atau ke atas.

Dalam budaya Betawi, hompimpa dilakukan dengan lagu berlirik “Hompimpa alaium gambreng. Mpok Ipah pakai baju rombeng.

Pemenang adalah peserta yang memperlihatkan telapak tangan yang berbeda dari para peserta lainnya. Ketika peserta lainnya sudah menang, peserta yang kalah ditentukan oleh dua peserta yang tersisa dengan melakukan suten.

Biasanya hompimpa digunakan oleh anak-anak untuk menentukan giliran dalam sebuah permainan. Sewaktu bermain Petak Umpet misalnya, anak yang kalah hompimpa mendapat giliran sebagai penjaga pos.

Kalimat “Hongpimpa Alaium Gambreng” sendiri bermakna “Dari Tuhan Kembali Ke Tuhan, Mari Kita Bermain”

Suten
Suten, sut atau populer sebagai suit (suwit) dan pingsut adalah cara mengundi untuk dua orang dengan cara mengadu jari untuk menentukan siapa yang menang. Dalam permainan anak-anak, pemenang sut dapat lebih dulu bermain atau terbebas dari menjaga. Sebagai pengganti undian, suten dipakai untuk menentukan siapa yang memperoleh sesuatu, atau siapa yang lebih dulu dapat memulai sesuatu.



Peraturan
Jari yang dipergunakan dalam sut adalah ibu jari yang diumpamakan sebagai gajah, jari telunjuk yang diumpamakan sebagai manusia, dan jarikelingking yang diumpamakan sebagai semut. Dua orang yang bersuten secara serentak mengacungkan jari yang dipilihnya. Hasil seri terjadi bila kedua belah pihak yang bersuten mengacungkan jari yang berkekuatan sama, misalnya: kelingking melawan kelingking. Bila terjadi seri, suten diulang hingga ada pihak yang menang.
Jari yang menjadi pemenang suten:
  • Ibu jari versus telunjuk: pemenang adalah ibu jari.
  • Telunjuk versus kelingking: pemenang adalah telunjuk.
  • Kelingking versus ibu jari: pemenang adalah kelingking.

Batu-Gunting-Kertas (Suwit Jepang)
Batu-Gunting-Kertas adalah sebuah permainan tangan dua orang. Permainan ini sering digunakan untukpemilihan acak, seperti halnya pelemparan koin, dadu, dan lain-lain. Beberapa permainan dan olahragamenggunakannya untuk menentukan peserta mana yang bermain terlebih dahulu. Kadang ia juga dipakai untuk menentukan peran dalam permainan peran, maupun dipakai sebagai sarana perjudian. Permainan ini dimainkan di berbagai belahan dunia.

Di kalangan anak-anak Indonesia, permainan ini juga dikenal dengan istilah "Suwit Jepang". Di Indonesia dikenal juga permainan sejenis yang dinamakan suwit.



Cara permainan

Setiap isyarat mengalahkan satu dari dua isyarat lainnya.
Terdapat tiga isyarat tangan dalam permainan ini. Batu digambarkan oleh tangan mengepal, gunting digambarkan oleh jari telunjuk dan tengah, kertas digambarkan oleh tangan terbuka. Tujuan dari permainan adalah mengalahkan lawan bermain. Aturan standar adalah batu mengalahkan gunting, gunting mengalahkan kertas, dan kertas mengalahkan batu.
Jika kedua pemain mengeluarkan isyarat yang sama, maka permainan diulang. Kadangkala pemain menggunakan sistem berulang-ulang artinya sekali kemenangan tidak cukup untuk menghentikan permainan. Misalnya pemain yang menang 5 kali terlebih dahulu menjadi pemenang.



Tuesday, 5 March 2013

✎ Pohon Ini Terbesar Di Dunia

Pohon General Sherman begitulah disebutnya merupakan salah satu dari pohon-pohon paling tinggi di dunia dari jenis Giant Sequoia ini memiliki ketinggian mencapai 85 meter. Umurnya diperkirakan antara 2200 hingga 2700 tahun. Pohon ini diberi nama "Jenderal Sherman", diperkirakan bukan hanya merupakan salah satu yang tertinggi , tapi juga merupakan jenis Sequoia yang terbesar dalam hal volume-nya. Di tahun 2002 pohon ini pernah terukur volumenya yang sebesar 1487 meter kubik.


Pohon General Sherman ini berlokasi di Taman Nasional Sequoia di Visalia, California, dinamakan demikian diambil dari nama seorang veteran perang sipil Amerika Jendral William Tecumseh Sherman. James Wolverton seorang Letnan pada kavaleri Indiana ke-9 di bawah pimpinan Sherman menamakan pohon ini dengan nama bos-nya pada tahun 1879. Pohon ini sebenarnya sudah dianugerahi gelar sebagai yang terbesar sejak tahun 1931 dilihat dari faktor volume-nya.




Diukur dari dimensinya, pohon Sherman ini mengindikasikan menjadi semakin besar tiap tahunnya. Diameternya 1,4 meter di atas tanah adalah 7,7 meter, diameter 18 meter di atas tanah adalah 5,3 meter, diameter 55 meter di atas tanah adalah 4,3 meter, dan ketinggian dahan pertama dari atas tanah adalah sekitar 40 meter.
























Yang menarik, dahan terbesarnya patah pada tahun 2006. Bentuknya seperti huruf "L" menghunjam dari kira-kira seperempat ketinggian pohon. Dahan ini mempunyai diameter 2 meter dengan panjang 30 meter dan menghancurkan pagar yang dibuat di sekelilingnya. Meski demikian tetap saja pohon ini masih menjadi makhluk hidup terbesar di muka bumi yang masih hidup.


video dari national geographic :

















Umur pohonnya 3200 tahun (menurut natgeo)

Statistik

*Semua satuan dalam meter

Tinggi dari pangkal: 83,8
Keliling batang di tanah: 31,1
Diameter maksimum di pangkal: 11,1
Diameter 1,5 m di atas pangkal: 8,25
Diameter 18 m di atas pangkal: 5,3
Diameter 55m di atas pangkal: 4,3
Diameter cabang terbesar: 2,1
Tinggi cabang besar pertama di atas pangkal: 39,6
Sebaran mahkota rata-rata (average crown spread): 32,5



                                                                                                                                                     Sumber

Saturday, 2 March 2013

✎ Mengenal Kuliner Papeda/Kapurung



Anda mungkin pernah mendengar makanan ini, tapi pernahkah anda membayangkan bagaimana bentuknya ? Bagi anda yang belum tahu, mungkin anda bisa membayangkan ‘kanji’. Tahu kan  tepung kanji yang dikasih air panas ? Kira-kira gimana bentuknya ? Seperti ‘Lem’ bukan ? Kalau ‘lem’ itu anda makan gimana rasanya ? heheh. Aneh pasti ya ?
Maka dari itu, dulu pernah ada ‘joke’ kalau orang ambon dilarang masuk kantor post. Lha kok bisa ? Soalnya ‘lem’ surat dan perangko yang disedikan di kantor post  nanti dikira ‘papeda’. Hahaha.
Bahan utama papeda adalah berasal dari tepung sagu yang tentunya berasal dari pohon sagu juga. Nah, sagu ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bagian timur, khususnya Maluku dan Papua. Tapi ternyata juga dikenal oleh masyarakat rumpun melayu yang lain, seperti Malaysia dan Brunai. Bahkan makanan yang disebut papeda ini, dikenal juga di sana dengan nama Linut. Selain itu, di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat daerah Luwu (Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur), papeda dikenal dengan nama Kapurung.
Walupun mungkin aneh bagi anda, bagi saya makanan ini cukup lezat disantap. Gimaan lezatnya, kalau makannya hanya begitu saja ? Ya memang, kalau hanya pepedanya doang, siapa juga yang mau. Jadi menurut saya, sajian papeda itu tidak bisa dipisahkan dari menu pelengkapnya. Sehingga kalau ada yang mengaku kalau ia pernah ‘makan papeda’, hal itu berarti papeda dicampur (mix) dengan menu yang lain.

Saya tidak tahu bagaimana cara menyajikanya di Malaysia, Brunai atau di Sulawesi Selatan. Namun kebiasaan untuk masyarakat Maluku dan Papua, papeda disajikan bersama menu lain kuah ikan kuning dan ikan bakar atau goreng. Walaupun dapat dimix dengan menu yang lain, namun yang saya  tahu, khususnya untuk masyarakat Maluku, papeda dipasangkan  dengan (sayur) “kuah ikan kuning”,   ini adalah pasangan yang tepat dan menjadi kegemaran  banyak orang.

Tepung sagu yang dipilih utuk membuat papeda harus yang baik, karna dapat menentukan kualitas papeda itu sendiri. Tapi bukan tepung sagu yang dijual di super market. Setahu saya, kualitas papeda yang saya makan berasal dari tepung sagu berwarna putih bersih yang agak  basah dan padat, artinya tidak sehalus tepung sagu yang dijual di supermarket. Tepung sagu yang saya kenal itu ditempatkan dalam satu wadah yang juga terbuat dari daun sagu, yang dinamakan ‘tumang’.
Cara membuat papeda walau kelihatannya mudah, tetapi tidak sembarang orang bisa melakukannya. Kalau sampai salah menakar, papeda yang dihasilkan terlalu cair. Biasanya tepung sagu dicairkan terlebih dahulu dengan air secukupnya (kadang dikasih gula dan garam juga). Setelah itu, gunakan air panas (mendidih) untuk dilarutkan ke tepung sagu yang sudah dicairkan tersebut. Pada saat air panas dituangkan, perlahan-lahan diaduk sehingga sagu matang secara merata.

Setelah hidangan pelengkap lain telah tersedia, papeda juga siap untuk disantap. Nah cara mengambil papeda dari tempatnya untuk dipindahkan ke piring tentu saja memerlukan cara tersendiri. Tidak bisa menggunakan sendok, seperti mengambil kuah dari wadahnya.  Biasanya papeda ‘digulung’ berulang-ulang dengan dua belah ’sumpit’ bambu hingga terpisah dari gumpalan papeda utama untuk dipindahkan ke piring makan. Setelah dirasa cukup, papeda di piring ditambahkan dengan kuah ikan kuning secukupnya,  ikan kuning itu sendiri atau ikan bakar yang ada. Papeda sendiri tidak memilki rasa, oleh karena itu sangat ditentukan dengan kelezatan Kuah ikan kuning. Inilah kunci dari hindangan papeda sesungguhnya.

Nah bagian paling seru adalah cara menyantapnya. Banyak orang yang tidak biasa, mungkin berpikir untuk menggunakan sendok seperti biasanya. Memang tidak ada yang malarang, namun penduduk asli Maluku atau Papua tidak akan menggunakan cara tersebut. Papeda yang sudah dicampur dengan kuah ikan kuning akan “disedot” perlahan-lahan dari ujung (pinggir) piring, sambil meminum kuah ikan kuning. Aneh ya ? Tapi itu cara mereka menyantapnya.
O yaa, papeda jangan dijadikan makanan utama atau tunggal kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa,  apalagi untuk mempertahankan rasa kenyang. Karena selang beberapa jam kemudian anda akan merasa lapar kembali. Setelah menyantap papeda secukupnya, anda boleh beralih ke jenis makanan lain untuk melengkapi kebutuhan perut anda.





Total Pageviews

Histats